Container Icon

My Story (Part 1)


Wow, gak terasa ya ini uda semester delapan loh. Kira-kira uda nyaris 4 tahun aku berada di negeri seribu matahari yang konon katanya anginpun enggan berhembus (Hiperbol deh,, hhee ). Aku bersyukur sekali akan takdirku untuk menikmati hidup di kampus nan penuh memori ini. Yah, aku kuliah di jurusan Teknologi Pertanian, Universitas Sriwijaya. Awalnya tak begitu mengerti dan tak terlalu suka dengan jurusan yang gak sengaja aku pilih, tapi kini aku ralat ya kata-kata itu. Sekarang aku teriakan bahwa “aku begitu menyukai takdirku karena semua terjadi karena kehendak-Nya dan aku yakin Allah tau yang terbaik buatku”.
Well, 4 tahun hidup merantau. Aku menemui keluarga baruku disini. Right, mereka adalah sahabat-sahabat yang dititipkan Allah untuk menemaniku mengarungi samudra mimpi ini.  Apakah itu indah ? “sangat indah, perjalanan meraih mimpi itu begitu indah. Ronah kebahagian mengiringi hari demi hari yang kami lalui”. Tak pernahkah ada duka ? “tentu saja ada, beragam perselisihan terjadi, kesalahpahaman menjadi-jadi, sindiran menyayat hati, cibiran mewarnai”.
Ok, nevermind. Itulah hidup. Setiap insan mempunyai sifat buruk yang mungkin ia sendiri tak mampu mengontrolnya. Aku pun sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa aku juga punya sifat buruk yang mungkin membuat orang jengkel dan dengki (Maaf ya, tulus dari hati loh). Tapi mereka masih terima aku loh sebagia temannya. Ahh, begitu baiknya mereka. Jadi terharu maksimal deh. Hiks. . .
Nah kalo mereka aja terima aku dengan segala sifatku. So, bagaimana dengan aku ? bukankah seharusnya aku terima mereka, sebagaimana mereka terima aku. Benar gak ? yups, benar banget. Aku wajib, kudu, mesti dan harus terima mereka dengan segala sifat mereka.
Ehh aku pernah baca sebuah kutipan bahwa ” sahabat yang baik itu adalah sahabat yang mengajak pada kebaikan”. Sangat jelas kalo yang namanya sahabat yang baik itu gak bakal ngajak sesat deh.
Hmm,, tentunya aku mau jadi sahabat yang baik donk buat kalian yang udah terima aku setulus hati karena Allah SWT. Gimana ya caranya ? mungkin aku bisa bagi ilmu pengetahuan yang ku peroleh sepanjang masa ya. Semoga kalian berkenan ya menerima celotehku ini.
*bersambung

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kematian itu begitu dekat

Seperti beberapa malam yang lalu, aku tengah disibukkan menyelesaikan skripsiku tercinta. Entah apa yang ada dibenakku malam ini, lamunku pun melayang tentang kejadian beberapa hari ini. Aku benar-benar gak fokus untuk mikirin pembahasan skripsi. Diri ini bertanya, kemana semangat yang ada dalam hidupku ? ahh, entahlah mungkin ia sedang bersembunyi dan memintaku mecarinya.
Sabtu (6 April 2013), sebuah pesan singkat dari uni mengusik hariku, "umi, fatan koma. mohon do'a ya". Deg, hati ini berdetak begitu kencang.Walaupun aku tau beberapa hari terakhir fatan memang rawat inap di Rumah Sakit, tapi aku gak pernah berfikr anak sekecil itu bakal koma. Yaa Robb, ia masih amat kecil untuk merasakan sakit itu. Ingin sekali rasanya menggantikan posisinya, tapi itu tak kan mungkin. Aku hanya bisa berdo'a kepada Sang Pemilik Nyawa ini, "Ya Allah, Yaa Rahman, berilah kesembuhan kepada keponakanku. jika tidak berilah jalan yang terbaik menurut-Mu, kami ikhlas".
Sehari berlalu, Minggu (7 April 2013) pukul 03.30 WIB. Saya dan teman-teman satu rumah emang sejak kemarin tengah berpuasa dan kini kami bangun untuk melaksanakan sahur sambil menanti adzan subuh. Semuanya biasa saja, gak ada yang aneh pada perasaanku. Seperti biasa, aku adalah anak yang sangta malas dan hobi tidur setelah subuh, sifat yang sangat buruk bukan ? tapi itulah aku, aku belum bisa mengubah kebiasaan yang satu ini.
Entah berapa lama aku tertidur usai sholat subuh, saya rasa matahari uda sangat tinggi. Tentu saja, ini uda pukul kurang lebih 11.00 WIB. Wow, hibernasi yang cukup panjang. Aku bangu setelah menerima pesan singkat dari adikku, "uni fatan meninggal". Antara sadar dan gak sadar, serasa ini semua adalah mimpi. "Innalillahi wainnailaihirojiun", hanya itu yang bisa saya tuliskan. Benar-benar tubuh ini terasa melemah, begitu dekatnya kematian itu. Segera kuraih handphoneku, dilayar pun tertera memanggil abang donny. Suara dari seberang pun menjawab panggilanku. Ya, dia istri abangku, kusapa ia sekedar menanyakan keadaan. Kemudian aku berbicara dengan abangku. Tak banyak yang kami bicarakan, durasi panggilan pun hanya sekitar 10 menit dan aku pun telah kehabisan kata-kata. Aku hanya memberikan sedikit nasehat kepadanya dan memintanya untuk terus bersabar dalam menghadapi semuanya.
Aku dan abangku tidak terlalu dekat. Mungkin karena kita beda gender. Dia adalah anak laki-laki pertama di keluargaku, sedangkan aku putri bungsu dalam keluarga sebelum adik saya lahir sepuluh tahun kemudian yaa. Sepuluh tahun menjadi anak bungsu, tentu saja membuat aku sempat mejadi adik tersayang donk karena itulah aku menjadi anak yang manja. Aku gak pernah terlibat persoalan yang terjadi di keluarga. Aku hanya tau bermain, belajar dan tidur. Hal ini juga menyebabkan aku canggung jika harus menasehati saudara-saudaraku yang lebih tua. Aku hanya berfikir, anak kecil seperti aku tau apa sih tentang mereka. Tapi tak jarang, mama selalu menyuruh aku untuk menesehati mereka. Sungkan si, tapi gak bisa menolak kemauan mama.
Malam ini, aku berharap "esok saat aku bangun dari tidurku, kabar baik yang akan ku dengar. Dan semoga semangatku bisa kutemukan ya, aku lelah tanpa dia".
"Yaa Robb, Yaa Rahman, Yaa Rohim, terimalah fatan disisiMU. Sampaikan padanya "ummi sayang fatan, semuanya sayang fatan. Ummi yakin fatan pasti sangat bahagia berada di sisi Allah SWT. Fatan tunggu ummi ya di Jannah-Nya. Ummi selalu mendo'akan fatan". Aamiin

Tears,
e. Putery Marsya

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS